Bangga jadi Guru

Beberapa waktu yang lalu aku pergi ke Ponorogo untuk menengok putraku yang sedang mondok di Gontor 2. Wah kali ini aku benar-benar nekad karena baru kali ini aku pergi sendirian, biasanya kan selalu bersama suami atau bersama rombongan. Ketika sampai di Juanda aku ngambil koper di bagasi dan langsung keluar mau ke Bungur Asih naik bus Damri. Sesampai di Bungur Asih perjalanan diteruskan dengan bus patas jurusan Ponorogo. Sesampai di Terminal Ponorogo aku kebingungan, biasa di Terminalkan selalu rebutan para ojek dan sopir untuk mencari penumpangnya. Kemudian kuputuskan untuk naik angkutan saja dan langsung diantar sampai halaman ruang tamu di Gontor 2.

Aku merasa lega karena perjalananku lancar dan sampai tempat tujuan sesuai waktu. Aku masuk ruang tamu untuk istirahat. Di sana banyak orang tua santri yang juga datang menengok putra-putranya. Yang jelas aku belum kenal mereka karena baru bertemu kali ini. Sehabis shalat Magrib para orang tua santri semua berdiri berkumpul di halaman untuk melihat para santi yang akan lewat sepulang dari Mesjid. Aku dan ibu-ibu lainnya juga berdiri di sana sambil ngobrol. Mereka bertanya kepadaku, Ibu berasal dari mana, mereka kaget setelah aku bilang berasal dari Banjarmasin. Kata mereka jauh sekali, memang dibanding mereka ada dari Jakarta, Semarang, Sidoarjo, pokoknya masih di wilayah pulau Jawa.

Obrolan kami berlanjut, mereka bertanya lagi Ibu bekerja dibidang apa? Aku jawab dengan pasti, saya guru SD, mereka bertanya lagi “ibu, Guru?” sepertinya mereka tidak percaya. Aku jawab sekali lagi iya, saya Guru SD emang kenapa Bu? aku balik bertanya pada mereka. Salah satu dari mereka menjawab Ibu tidak terlihat seperti seorang Guru. Aku berpikir ada apa dengan penampilanku ya? Terus aku balik bertanya pada mereka, menurut Ibu saya bekerja apa? Mereka menjawab, lebih tinggi lagi BU. Aku tidak mengerti yang dimaksud mereka lebih tinggi itu bagaimana. Aku jadi miris, apakah seorang Guru SD itu rendah di mata mereka. Ya Allah tidak sebegitu berartikah pekerjaan seorang Guru itu, apalagi Guru SD.

Apa mereka tidak sadar anak-anak mereka juga jebolan SD atau yang sederajat. Bisakah anak-anak mereka melanjutkan sekolahnya kejenjang yang lebih tinggi tanpa sekolah di SD dulu/ yang sederajatnya. Apakah pandangan mereka terhadap Guru SD itu seperti seorang tua yang berpakaian seadanya, pergi ke sekolah dengan jalan kaki atau dengan sepeda ontelnya seperti yang digambarkan dengan Oemar Bakri, aku miris bukan karena aku seorang Guru SD.

Sebagai seorang Guru SD aku merasa bangga, aku sangat menyukai pekerjaan ini dan sudah 23 tahun aku bergelut di dunia pendidikan ini. Banyak murid-muridku yang sudah berhasil ini sangat membahagiankan hati. Di dalam bekerja selalu ada suka dan dukanya yang pernah ditemui, seperti halnya Guru juga ada suka dan dukanya. Kalau sukanya Guru adalah melihat anak didiknya berhasil jadi orang yang berguna atau kehidupanya lebih baik dari Gurunya karena keberhasilannya. Itu adalah suatu kegembiraan dan kebahagian seorang Guru.

 Namun aku juga pernah mengalami duka yang mendalam, manakala aku bertemu seseorang (murid) yang kini telah berhasil dia juga sekarang jadi guru di sekolah swasta. waktu itu aku satu Diklat dengan dia, tapi dia tidak menyapa ketika berhadapan. Aku berfikir apa dia sudah lupa dengan guru SDnya dulu, tapi kenapa aku gurunya saja masih mengenal dia walaupun lama tidak bertemu. Apakah dia sudah melupakannya, jika iya sungguh menyedihkan, sebagai seorang guru tentu tidak meminta apa-apa kepada murid-muridnya. Sekedar tersenyum atau sapaan juga sudah cukup memberikan kebahagian hati seorang guru.

Aku jadi ingat saat pulang kampung sebulan yang lalu aku bertemu Ibu Guruku di TK.  Beliau masih sehat, kupeluk beliau dengan penuh kerinduan karena kami jarang sekali bertemu. Beliau cerita waktu aku masih sekolah TK. Terlihat kebagian di wajah beliau mungkin melihat si kecil dulu sekarang sudah dewasa bahkan sudah tua kali ya, namun beliau masih segar bugar. Mudah-mudahan aku juga bisa seperti beliau, panjang umur, tetap sehat dan segar bugar agar dapat melihat anak-anak didikku menjadi orang-orang berhasil. Amin ……

Sehebat apapun kita sekarang janganlah kita melupakan orang yang pernah memberikan pelajaran, kasih sayang sampai kita jadi orang. Orang yang tidak bisa menghargai Gurunya maka ilmu yang diterimanya tidak akan bermanfaat. Jangan seperti kacang lupa akan kulitnya. Sekedar senyum dan salam sudah lebih dari cukup bagi Guru. Senyum itu sedekah lho, banyak pahalanya. Tapi jangan senyum sendirian ya.

Bagaimana menurut sampeyan????

8 Responses to “Bangga jadi Guru”


  1. 1 Pakacil Agustus 12, 2008 pukul 6:25 pm

    untung, beruntung sekali Bu, saya masih ingat guru² yg pernah mengajar saya dulu. Walau mungkin tidak 100% untuk ingat nama, kalau wajah sih sepertinya hafal.

    Tapi dasar saya yg mungkin agak kurang ajar, sebagian sekarang malah jadi semacam teman. Ngobrol sampai malam di rumah guru SMA, ngeblog dengan guru SMP, bercanda dengan guru waktu SD… parahkan sayanya?
    hihihihi….

    ** kok lama ga nongol tulisannya? **

    Itu bukan kurang ajar namanya, tapi sebuah keakraban antara guru dan murid masih terjalin. Bagus!
    Iya baru bisa nongol nich, hehehe jadi malu …..

  2. 2 yudi gress Agustus 13, 2008 pukul 1:02 pm

    Guru itu memang pekerjaan paling mulia dan tinggi nilainya.
    Pemerintah nih yg harus disalahkan, karena ga mikirin kehidupan para guru. Padahal mereka duduk di kursi panas lantaran mereka dah pada pinter, itu berkat sapa coba ? kalau bukan karena guru2 yg berdiri di depan papan tulis sambil megang kapurnya. Di Malaysia saja, guru itu sangat tinggi posisinya dan penghasilannya pun lumayan. Musti hati2 nih, milih pemimpin-pemimpin kite. ya ngga, bang, mpo, ncang ncing nyak babe.. ?? hehe…

    wah setuju …….!

  3. 3 Rizky Agustus 18, 2008 pukul 1:15 pm

    Wah, ternyata profesi seorang guru itu tiada lapuk oleh zaman… Ulun jadi termotivasi setelah membaca tulisan pian… Apalagi ulun ntar akan menjadi seorang guru…

    Iya dong, makanya kita harus bangga jadi Guru!

  4. 4 Syamsuddin Ideris Agustus 18, 2008 pukul 2:11 pm

    Sungguh Bu, pekerjaan guru adalah pekerjaan mulia. Kita para guru jangan berkecil hati walau kita miskin materi tapi kaya ladang pahala.

    Ingatlah Bu, Sabda Baginda Nabi Muhammad SAW: “Saat seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara. Pertama Amal Jariah, Ilmu yang bermanfaat dan ketiga anak yang saleh”.

    Insyaallah, ilmu yang telah kita berikan pada ratusan bahkan mungkin ribuan anak didik kita adalah ilmu yang bermanfaat. Setelah kita meninggal nanti, jika mereka melakukan satu kebajikan yang diantaranya menggunakan ilmu yang kita ajarkan, maka mudah-mudahan kita menerima aliran pahala dari Allah SWT. Amin.

    Ayo..semangat semua guru Indonesia. Didiklah anak bangsa kita agar menjadi manusia yang berguna bagi Agama, Bangsa dan Negara.

    Ayo semangat ……..Ok!

  5. 5 Ersis Warmansyah Abbas Agustus 18, 2008 pukul 3:13 pm

    Kalimat cerdas… Sehebat apapun kita sekarang janganlah kita melupakan orang yang pernah memberikan pelajaran, kasih sayang sampai kita jadi orang.

    Setuju ……..!

  6. 6 Daiichi Agustus 22, 2008 pukul 3:04 am

    Pekerjaan mulia, tanpa-nya ga akan ad orang2 hebat, ga ad pemimpin hebat, tanpa-nya kan gelaplah dunia….

    Terima kasih telah mendidik kami…!!

  7. 7 zulfaisalputera September 7, 2008 pukul 5:53 pm

    Jadi guru itu luar biasa, Bu!
    Aku sudah buktikan.
    Aku yakin Allah juga bangga aku jadi guru!
    Lima belas tahun aku jalani.
    Alhamdulillah, ada kebanggaan yang tidak bisa dibeli ketika menjadi guru.
    Aku ternyata mampu bermanfaat bagi orang lain!

    Teruslah bangga jadi guru.
    Lebih bangga lagi jadi guru yang kreatif dan mencerdaskan!

    Tabik!

    Sok pasti, tanpa guru bagaimana anak bangsa bisa cerdas?

  8. 8 ilham Februari 3, 2009 pukul 4:46 am

    seorang guru memang tidak bisa sugih harta, tapi hanya bisa sugih murid …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: