Doa untuk Anakku

Kamis pagi pukul 03.30 WIB travel yang membawa kami berhenti persis di depan Pondok Pesantren Modern Dasussalam Gontor 2 Ponorogo. Kami bertiga: aku, suamiku dan anakku turun dari mobil dan menuju pagar yang masih terkunci dengan gembok di dalam pagar ada pos penjagaan namun penjaganya tidak kelihatan. Di dalam masih kelihatan sepi dan tak berapa lama datang seorang anak yang usianya kurang lebih 13 tahunan menuju ke arah pos penjagaan. Ternyata di pos tersebut ada penjaganya yaitu 2 orang santri yang lagi ketiduran. Mereka langsung bangun dan bergegas membukakan pintu pagar dan mempersilahkan kami bertiga masuk.

Kami terus dibawa masuk dan berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan gedung Saudi. Kami dipersilahkan duduk di kursi yang ada di teras dan di sana kami berhadapan dengan 2 santri yang ternyata mereka sedang piket. Setelah ditanya nama dan asal kemudian diminta menyerahkan tanda pengenal KTP atau SIM kemudian mereka memberikan kartu pengenal yang bertuliskan TAMU kepada kami. Sambil menunggu hari siang kami dipersilahkan masuk ke ruangan untuk beristirahat. yang perempuan khusus di ruang perempuan dan laki-laki juga khusus laki-laki.

Kemudian saya masuk keruangan, eh ternyata di situ banyak ibu-ibu yang menginap. Setelah memberi salam saya berkenalan sama mereka, karena mereka semua sudah pada bangun. Ada yang berasal dari Makasar, Padang, KalTim, Bali, dsb. Mereka semua datang ke sana dengan tujuan yang sama dengan saya yaitu untuk menyekolahkan anak ke Ponpes Gontor tersebut. Dan ketika selesai shalat Subuh ibu-ibu pada berdiri berjejer di depan kamar inap untuk melihat santri-santri yang baru pulang dari Mesjid. Wah … saya terkagum-kagum melihat barisan para santri yang usianya rata-rata 11 sampai 13 tahun dengan berpakaian putih, pakai sarung dan pici hitam sambil mendekap sebuah kitab suci Al-Qur’an. Dengan gagahnya mereka terus menuju asrama mereka masing-masing.

Tak lama kemudian para santri sudah berganti pakaian, mereka mengenakan pakaian olah raga warna biru. Masing-masing ada yang bermain basket, bulu tangkis dan takraw. Para orang tua menonton anak-anaknya yang sedang berolahraga, setelah beberapa saat terdengar loncing berbunyi para santripun kembali ke kamar mereka karena waktu selanjutnya mereka harus mandi, makan dan kemudian bersiap-siap untuk masuk kelas untuk belajar.

Sebenarnya anak-anak tersebut belum resmi menjadi santri di Ponpes Gontor tersebut. Status mereka saat ini hanya sebagai calon santi yang mondok untuk persiapan mengikuti test masuk pada bulan SYa’ban nanti, katakanlah mereka sedang mengikuti bimbingan belajar. Dan mereka juga ditest untuk menentukan kelas mana yang makan mereka tempati sesuai kemampuan anak tersebut.

Kebanyakan anak yang datang ke sana adalah anak-anak yang dari SD seperti anak saya juga dari SD mereka masih terlalu muda. Tak heran ada orang tua selama 2 minggu sudah berada di sana karena anaknya tidah mau ditinggalkan. Ada anak yang sakit ketika di tinggal orang tuanya dan sepertinya mereka stres.

Untuk menyekolahkan anak yang usianya SD yang jauh dari orang tua memerlukan persiapan mental yang yang kuat. Saya menyaksikan beberapa anak yang selalu datang ke kamar ibunya dan menangis. Katanya dia takut dan sedih kalau ditinggal ibunya kembali. Sebenarnya kekuatan hati untuk bepisah jauh bukan pada anak saja, namun orang tua juga harus kuat untuk melepas anaknya untuk berpisah.

Mana kala sianak datang keibunya, ibunya terus memeluk dan mencium anaknya mana bisa anaknya berpisah dengan tenang karena sang ibu sepertinya tidak tega untuk melepaskan anaknya. Berpisah dengan sang buah hati memang sangat menyakitkan. Namun berpisah untuk pendidikan anak sendiri agar menjadi anak yang baik, sholeh dan berguna bagi agama dan bangsa tidak ada alasan untuk tidak ikhlas. Semua orang tua menginginkan anaknya menjadi orang baik, karena anak adalah kekayaan orang tuanya yang tidah bisa diganti dengan apapun juga.

Aku selalu berharap dan berdoa semoga anakku dapat diterima menjadi santi di Ponpes Modern Darussalam Gontor ini. Melihat kegiatan dan bimbingannya aku semakin kuat untuk menyekolahkan anakku di tempat ini. Dan Alhamdulillah anakku sendiri juga mau dan kelihatan dia menyukai kegiatan-kegiatannya.

Setelah menginap selama 3 hari kamipun pamit pulang. Air mata memang tidak bisa dibendung lagi ketika aku peluk dan cium pipi anakku. Saat itu dia akan menuju  kelas bersama teman-temannya dan ketika itu ada anak dari Banjarmasin bersamanya. Teman-temannyapun berusaha menenangkan dan mengajaknya berjalan menuju kelasnya. Rasa ada sesuatu yang menekan di dada karena menahan air mata. Aku berdoa mudah-mudahan dia kuat, tabah dan slalu diberi kesehatan dan bisa masuk menjadi santri di sana.

Aku selalu pantau keadaanya lewat orang tua temannya yang berasal dari Kendal, kadang SMS dan juga telpon langsung, namun aku dilarang untuk berbicara langsung, katanya nanti dia nangis lagi sedangkan sekarang dia sudah ceria. Aku juga cukup puas atas kabar yang kuterima walaupun hati ini pengen sekali berbicara langsung. Tapi sudahlah niatnya kan mau mendidik anak supaya pandai dan juga  mandiri. Ikhlaskan, pasrahkan dan doakan itulah cara yang lebih baik dari pada sedih terus……

Gimana menurut sampean ????????? 

 

 

 

 

5 Responses to “Doa untuk Anakku”


  1. 1 anton Juni 16, 2008 pukul 4:37 pm

    wah bagus banget bunda kata2 nya..,saya sampai terharu baca nya…nggak bisa saya komen nya bunda…

    ah masa iya…? terima kasih atas kunjungannya.

  2. 2 pakacil Juni 16, 2008 pukul 6:46 pm

    turut mendoakan mudahan lancar Bu untuk semuanya, walaupun mungkin sangat tidak mudah pada awalnya. Tentu butuh waktu…

    Amien…..! Terima kasih atas doanya ya.

  3. 3 gress Juni 17, 2008 pukul 2:01 pm

    Hehe….. sedih ya membaca oleh2nya nih. Yaaa.. itulah perjalanan kehidupan. Ada pertemuan.. ada perpisahan. Tapi perpisahan yang terbaik adalah perpisahan yang dilandasi keikhlasan pada-Nya. Segala yang ada didunia hanyalah titipan Ilahi. Sejauh mana kita membawanya pada jalan yang diberkahi dan diridhoi-Nya. Semoga Tri jadi anak yg sholeh. Amien.

    Setuju sekali. Terima kasih atas doanya, semoga Allah mengabulkannya Amien ……..

  4. 5 rivafauziah Juli 21, 2008 pukul 5:00 pm

    Demi Kebaikan dan Masa Depan anak… Sukses Selalu bu..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: