Sore hari sekitar jam 16.00 wita aku ditemani putri pertamaku berangkat dari rumah menuju sekolah tempat aku bekerja, sebelumnya kami mampir di toko yang menjual alat-alat bangunan untuk membeli sekaleng cat tembok. Setelah yang mau dibeli sudah dapat aku langsung tancap gas menuju arah Sei. Besar. Dan kami akhirnya tiba di tempat tujuan yaitu SDN Sungai Besar 9.
Rasa sejuk merasuk dalam sanubariku, aku merasa nyaman ketika aku duduk-duduk di teras sekolahku sambil memandang di sekeliling. Tiba-tiba telpon selulerku berdering, ternyata dari Bu Erma. Bu Erma adalah salah satu guru di SDN Sungai besar 9. Tak berapa lama dia muncul karena tahu aku ada di sekolah sambil membawa jam diding yang baru dibeli untuk dipasang di kelas.
Kami pun masuk ke dalam kelas dibantu oleh penjaga sekolah untuk memasang jam dindingnya, disaat itu Bu Erma mengambil buku tulis yang ada di atas mejanya. Kemudian buku tersebut dibuka dan dilihatnya. Aku bertanya ada apa? Bu Erma menjawab, ini buku PR anak-anak. Mereka selalu mengumpul PRnya meskipun saya tidak masuk kelas karena tidak ada jam mengajar.
Aku jadi ingat waktu pertemuan KKG IPA di gugus Anggrek Loktabat. Saat identifikasi masalah ada guru menyampaikan permasalahan yang dihadapinya di sekolah. Katanya murid-muridnya sering tidak mengerjakan PR yang diberikan. Sudah berkali-kali dinasehati supaya mereka mau mengerjakan PRnya, tapi ada saja yang tidak mengerjakannya. Pokoknya sudah bermacam-macam cara namun hasilnya tetap sama.
Akupun memberikan masukkan atau pendapat tentang hal tersebut. Keengganan siswa untuk mengerjakan PR yang diberikan oleh guru bisa disebabkan karena siswa merasa PRnya sering /tidak pernah diperiksa dan diberi nilai oleh gurunya. Jadi mereka merasa tidak perlu untuk mengerjakannya karena tidak diberi nilai juga. Kalau itu sudah tertanam dihati siswa maka siswa tidak akan pernah mau mengerjakan tugas/PR nya.
Jika ingin siswa kita selalu menyelesaikan tugas/PRnya maka bila memberi tugas ataupun PR kepada siswa, kita harus menyuruh siswa mengumpul PRnya tepat waktu. kemudian berikan nilai dan jika ada siswa yang tidak mengerjakan berikan sanksi misalnya dengan menyuruh siswa tersebut mengerjakan PRnya saat jam istirahat sehingga dia merasa waktu istirahatnya tersita. Lakukan setiap kali jika ada siswa yang tidak mengerjakan tugas atau PRnya. Tagihlah dan beri nilai tugas mereka agar mereka merasa diperhatikan dan dihargai. Dengan demikian anak akan selalu memperhatikan semua tugas yang diberikan oleh gurunya.
Itulah yang saya sarankan kepada guru-guru di sekolah kami, apapun tugas yang diberikan kepada siswa guru jangan lupa untuk menanyakan atau menagihnya selalu dan juga memberi nilai sesuai dengan hasil pekerjaan mereka. Itu sudah dirasakan oleh Bu Erma muridnya baru kelas 1 namun muridnya disiplin dalam mengerjakan dan mengumpul PR yang diberikan oleh gurunya.
Jadi nilai yang diberikan guru sangat besar pengaruhnya dan juga dapat menjadi motivasi siswa untuk belajar, mengerjakan tugas ataupun PR mereka. Siswa akan senang bila pekerjaan mereka dihargai dan dinilai oleh guru mereka. Oleh sebab itu berilah nilai setiap tugas yang diberikan kepada siswa, ini adah salah satu cara agar tidak ada lagi siswa yang enggan mengerjakan tugas dan dan PRnya.
Bagaimana menurut sampeyan?
bener banget
semoga semua guru diberi ketabahan dan kebahagiaan
Amiiin ……
Bu Lathifah? be elang-elang pang ke wadah kawal ne….
Wah, tulisannya Mas Syam bagus banget. Terima kasih atas bimbingannya ya!!!
Kapan kita bisa belajar lagi ya?
yup, saya sangat setuju dengan semua pernyataannya ^_^
Yoi ….
Kalu guru sadar, seluruh aktivitas pembelajaran berpusat pada guru, teutama tingkat SD. Jadi, tergantung guru …
Betul Pak, jika ingin siswa disiplin maka gurunya dulu dong harus disiplin.
ah ibu… mengingatkan ulun pada kelakuan jaman sekolah dulu.
Kelas III SMA masih disetrap guru di depan kelas, karena tidak mengerjakan PR.
Alasannya karena memang tidak doyan kimia, sudah optimis tidak diperiksa, eh ternyata PR-nya diperiksa !
itukan jadi pelajaran …. pasti ga mau mengulanginya lagi. ^_^
Tapi… ada alternatif lainnya dalam memberikan sanksi. Siswa laki-laki yang tidak menulis PR nya, maka mereka harus push-up dan lari keliling lapangan. (bagus buat kesehatan mereka biar kuat mengerjakan PRnya). Bagi Siswa perempuan diwajibkan membersihkan halaman yang kotor (cara ini membuat halaman sekolah tambah bersih).
Oh ya, tampilan hurufnya diganti yang lebih enak di mata biar lebih asyik bacanya
Ok! Terima kasih ………..
Kog ngak diupdet … jangan malas menulis, itu ngak iluk
PENGUMUMAAAAAN…
Para blogger sekalian,….. Ibu Guru yang satu ini tidak nampak lagi.
Kemana ya gerangan ? Sibukkah beliau… atau mungkin sedang sakit..
atawkah.. sedang merajuk karna teman chatingnya pada membuatnya jengkel ?!!!… Semoga diberikan sehat wal afiat yaa.
Saya sih setuju dengan opini pian. Itu sih solusi pertama. Solusi yang tidak membunuh guru masih banyak misalnya reword bagi siswa yang mengerjakan PRnya, bentuknya bisa piagam bagi siswa rengking 1,2,3 tiap semester atau apapun bentuknya yang bisa memacu tapi tidak membuat ketergantungan. Saya sering menanamkan kalimat kepada anak ” Barang siapa yang mau berusaha (belajar) lebih (giat) dia akan mendapat (ilmu) lebih, Barang siapa yang mau belajar dengan hati dan keikhlasannya dia akan cepat memperoleh kedewasaan.” Yang saya tahu guru di Banjarbaru bertanggungjawab dalam tugasnya. Kecuali jika memang berhalangan ,)